BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pengendalian hama saat ini masih banyak menggunakan pestisida kimia yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem, munculnya resistensi, resurgensi, dan juga produk yang dihasilkan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi. Dampak dari penggunaan pestisida dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau keracunan yang ditandai dengan mual, muntah, pusing, gatal-gatal pada kulit, infeksi saluran pernapasan, kanker, hingga kematian apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Adanya dampak negatif yang timbul ini diakibatkan oleh penggunaan pestisida kimia yang tidak bijaksana, oleh karena itu maka petai perlu disadarkan untuk mulai menerapkan sistem PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dengan menggunakan pestisida nabati (Afifah et al., 2022).
Dalam proses pertanian organik, semua perawatan tanaman memakai bahan-bahan organik yang rama lingkungan. Bahan organik ramah lingkungan salah satunya berasal dari tanaman itu sendiri. Tanaman kaya akan bahan kimia yang memiliki berbagai bahan aktif yang dikenal dengan sebutan “produk metabolit sekunder”. Produk metabolit sekunder merupakan evolusi yang dikeluarkan oleh tanaman sebagai bahan aktif pestisida nabati (Lestari, 2019).
Beberapa jenis tanaman teridentifikasi memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang, atau buah. Bagian-bagian tanaman ini selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai bentuk (misalnya bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak, atau resin) yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan (Tando, 2018).
Berdasarkan uraian di atas, maka perlunya dilaksanakan praktikum ini adalah untuk mengetahui tanaman apa saja yang dapat memproduksi senyawa metabolit sekunder, kelebihan dan kekurangan dari penggunaan pestisida nabati, serta dampak dari penggunaan pestisida nabati, baik dari segi lingkungan, maupun dari segi ekonomi.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui cara pengaplikasian dan cara pembuatan pestisida nabati, baik dengan metode fermentasi maupun metode dengan menggunakan pelarut metanol sebagai upaya pengendalian terhadap OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).
Manfaat dari praktikum ini adalah untuk memberi pengetahuan dasar mengenai cara pengaplikasian dan cara pembuatan pestisida nabati dengan metode fermentasi dan dengan menggunakan pelarut metanol.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pestisida Nabati
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Bagi petani jenis hama yaitu tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria, dan virus, nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Penggunaan pestisida kimia yang tidak rasional menimbulkan dampak buruk dari segi lingkungan maupun dari segi kesehatan manusia. Dari segi lingkungan pestisida kimia dapat menyebabkan pencemaran air berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum dan saluran irigasi, ketidakseimbangan ekosistem sungai, danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya (Ariyanti et al,. 2017).
Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan yang terbatas, karena pestisida nabati ini bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia, serta ternak. Pestisida nabati ini berperan sebagai racun kontak dan racun perut. Setiap tanaman yang mengandung racun memiliki konsentrasi yang berbeda-beda bahwa semakin tinggi konsentrasi, maka jumlah racun yang mengenai kulit serangga makin banyak, sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian serangga lebih banyak. Tanaman yang berinteraksi dengan serangga menyebabkan adanya usaha mempertahankan diri sehingga tanaman mampu memproduksi metabolit sekunder untuk melawan serangga hama. Dengan adanya zat bioaktif yang dikandung oleh tanaman akan menyebabkan aktifitas larva terhambat, yang ditandai dengan gerakan larva lambat, tidak memberikan respon gerak (Ariyanti et al., 2017).
Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan aktif pestisida mulai banyak digunakan untuk pengendalian hama dan penyakit. Hal ini dikarenakan tumbuhan adalah sumber bahan kimia potensial yang dapat digunakan sebagai pestisida yang ramah lingkungan dan lebih aman secara kesehatan. Pestisida nabati selain ramah lingkungan juga merupakan pestisida yang relatif aman dalam penggunaannya dan ekonomis. Pestisida organik atau pestisida nabati merupakan pestisida yang berasal dari bahan organik, yang berfungsi sebagai obat tanaman dalam melindungi tanaman dari serangan hama akibat dari aroma dan kandungan bahan alami yang tidak disukai oleh hama tanaman (Tuhuteru et al., 2019).
Pestisida dari bahan nabati sebenarnya bukan hal yang baru tetapi sudah lama digunakan, bahkan sama tuanya dengan pertanian itu sendiri. Sejak pertanian masih dilakukan secara tradisional, petani di seluruh belahan dunia telah terbiasa memakai bahan yang tersedia di alam untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Pada tahun 40-an sebagian petani di Indonesia sudah menggunakan bahan nabati sebagai pestisida, diantaranya menggunakan daun sirsak untuk mengendalikan hama serangga. Penggunaan pestisida nabati dimaksudkan bukan untuk meninggalkan dan menganggap tabu penggunaan pestisida sintetis, tetapi hanya merupakan suatu cara alternatif agar pengguna tidak hanya tergantung kepada pestisida sintetis dan agar penggunaan pestisida sintetis dapat diminimalkan, sehingga kerasakan lingkungan yang diakibatkannyapun diharapkan dapat dikurangi dan waktunya kerasakan lingkungan dapat diperlambat pula. Kegunaan Pemakaian Pestisida Nabati: untuk meminimalkan pemakaian pestisida sintetis sehingga dapat mengurangi kerasakan lingkungan; untuk mengurangi biaya usahatani yang mana bahan pestisida nabati mudah didapat yang tumbuh di sekitar kita dan mudah dibuat oleh siapapun khususnya para petani (Wulandari et al., 2019)
2.2 Bayam Duri
Bayam duri (Amaranthus spinosus L.) adalah merupakan tumbuhan liar, yang mudah didapat dan tersedia dalam jumlah banyak, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, walaupun tanaman ini merupakan kelas bayam, namun di anggap merupakan tumbuhan gulma bagi tanaman lain. Akan tetapi tanaman bayam duri mempunyai komponen utama yang dapat digunakan yaitu protein sekitar 8,9 % dengan gugus amina (-NH2), gugus karboksil(-COOH), juga gugus sulfidril (-SH) dan selulosa 53,10% dengan gugus hidroksil(-OH). Adanya gugus-gugus ini sehingga bayam duri mempunyai reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat poliektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai absorben terhadap logam berat pada tanah yang tercemar (Mohammad, 2016).
Menurut Anggara (2017), klasifikasi bayam duri (Amaranthus spinosus L.) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Caryophyllales
Famili : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus spinosus L.
Ciri-ciri morfologi dari bayam duri adalah memiliki daun berbentuk oval dengan panjang antara 1,5 cm – 6,0 cm dan lebarnya berkisar antara 0,5 cm – 3,2 cm yang berwarna kehijauan. Batang bayam duri memiliki ukuran yang kecil dengan bentuk batangnya bulat, lunak dan berair. Batang bayam duri yang tumbuh tegak mampu mencapai tinggi 1 m. Ada bagian batangnya berwarna merah dan memiliki duri yang terdapat pada tungkai batangnya (Anggara, 2017).
2.3 Keunggulan dan Kelemahan Pestisida Nabati
Melihat kebutuhan dan kegunaan pestisida maka telah banyak produk pestisida yang beredar di masyarakat khususnya petani. Masing-masing jenis pestisida tersebut memiliki fungsi dan daya racun yang berbeda-beda. Disamping dapat membantu manusia dalam usaha mengatasi gangguan hama dan penyakit tumbuhan, penerapan pestisida memberi pengaruh yang besar terhadap organisme dan lingkungan lain yang bukan sasaran. Sebagian besar pestisida merupakan bahan kimia yang bersifat racun keras, tidak saja bersifat racun pada hama dan penyakit tumbuhan yang hendak dikendalikan tetapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Manusia sebagai tingkat trofik tertinggi dalam rantai makanan tidak luput dari efek buruk penggunaan pestisida baik secara langsung maupun tidak langsung (Singkoh dan Katili, 2019). Melihat fenomena diatas, ada baiknya kita beralih dari penggunaan pestisida kimia ke penggunaan pestisida nabati yang mempunyai banyak manfaat dan tidak berbahaya bagi organisme yang bukan sasarannya dan manusia.
Melalui pestisida nabati yang jauh lebih ramah lingkungan dan tidak beracun merupakan solusi yang lebih baik untuk menggantikan peran pestisida kimia. Jika dibandingkan dengan pestisida kimia, pestisida nabati mempunyai beberapa kelebihan. Pertama, lebih ramah terhadap alam, karena sifat bahannya yg meliputi tanaman srei, lengkuas, tembakau, dan daun mimbo mudah terurai menjadi bentuk lain sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas. Kedua residu pestisida nabati tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman. Ketiga, dilihat dari sisi ekonomi, penggunaan pestisida nabati memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Selain itu, pembuatan pestisida nabati bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menghemat pengeluaran biaya produksi. Keempat, penggunaan pestisida nabati yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan resistensi pada hama (Wulandari et al., 2019)
Dari banyaknya kelebihan dari pestisida nabati, tentunya pestisida nabati juga memiliki kelemahan. Pertama, presentase yang singkat sehingga pada populasi hama yang tinggi diperlukan aplikasi yang berulang-ulang. Biaya produksi mahal, sehingga harga lebih mahal dari insektisida sintetik. Ketersediaan di pasaran masih sangat terbatas. Frekuensi pemakaian lebih tinggi, karena sifat racunnya mudah terdegradasi (Indiati, 2017).
2.4 Dampak penggunaan pestisida nabati
Pestisida nabati mempunyai potensi besar sebagai pengendali OPT yang ramah lingkungan. Sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman, pestisida nabati mampu bersifat mencegah, mengusir, memerangkap, menghambat pertumbuhan, sporulasi dan rigumentasi, menurunkan bobot badan dan aktivitas hormonal, mengganggu komunikasi, pergantian kulit, menimbulkan tekanan sampai kematian. Beberapa kendala pestisida nabati yang telah dikemukakan perlu solusi agar penggunaan pestisida nabati ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas sehingga penyelamatan lingkungan pertanian dari cemaran agrokimia dapat dikendalikan (Heryani et al., 2019).
Pestisida nabati mempunyai beberapa kelebihan. Pertama, lebih ramah terhadap alam, karena sifat bahannya yang meliputi bahan-bahan dari alam mudah terurai menjadi bentuk lain sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas. Kedua residu pestisida nabati tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman. Ketiga, dilihat dari sisi ekonomi, penggunaan pestisida nabati memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Selain itu, pembuatan pestisida nabati bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menghemat pengeluaran biaya produksi. Keempat, penggunaan pestisida nabati yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan me-nyebabkan resistensi pada hama (Wulandari et al., 2019).
Kinerja pestisida nabati dari daun pepaya ini secara menyeluruh dapat mencegah lebih banyak terjadi pencemaran lingkungan akibat pemakaian pestisida kimiawi/sintetis. Selain itu juga mengurangi dampak negatif dari penggunaan pestisida kimiawi/sintetis, yaitu hama akan resisten terhadap sintetis, munculnya residu pestisida, dan kontaminasi ke dalam tubuh manusia/binatang yang mengkonsumsi / memakan pestisida kimia. Penggunaan pestisida nabati ini juga dapat digunakan sebagai pengendalian hama, salah satunya hama penggerek polong yang sering menyerang tanaman polong-polongan (Fabaceae). Jika pengeplikasian nya dilakukan permanen menggantikan pestisida kimiawi/sintetis, maka akan didapatkan hasil yang optimal (Jujuaningsih et al., 2021).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Pestisida nabati mempunyai potensi besar sebagai pengendali OPT yang ramah lingkungan. Sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman, pestisida nabati mampu bersifat mencegah, mengusir, memerangkap, menghambat pertumbuhan, sporulasi dan rigumentasi, menurunkan bobot badan dan aktivitas hormonal, mengganggu komunikasi, pergantian kulit, menimbulkan tekanan sampai kematian.
Saran
Dalam pengaplikasian pestisida, sebaiknya memperhatikan keamanan karena kandungan bahan kimia yang ada di dalamnya bersifat toxic apabila masuk ke dalam mulut dan mata.
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, L., Saputro, N, W., Enri, U. 2022. Sosialisasi Penggunaan Beauveria Bassiana dan Pestisida Nabati untuk Mengendalikan Hama pada Sayuran Hidroponik. Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 8(1): 122-21.
Anggara, H, D. 2017. Pengaruh Ekstrak Daun Kamboja Terhadap Pertumbuhan Gulma Bayam Duri. Skripsi. Universitas Jember.
Anggraito, Y. U., Susanti, R., Iswari, R. S., Yuniastuti, A., Lisdiana, WH, N., Habibah, N. A., & Bintari, S. H. (2018). Metabolit sekunder dari tanaman. In Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Ariyanti, R., Yenie, E., & Elystia, S. 2017. Pembuatan pestisida nabati dengan cara ekstraksi daun pepaya dan belimbing wuluh. Doctoral dissertation. Riau University.
Heryani, N dan Rejekiningrum.P., 2019. Pengembangan Pertanian Lahan Kering Iklim Kering Melalui Implementasi Panca Kelola Lahan. Jurnal Sumberdaya Lahan, 13(2): 63-71.
Indiati, S. W. 2017. Pemanfaatan pestisida nabati untuk pengendalian opt pada tanaman kedelai. Bunga rampai: teknik produksi benih kedelai, 129-138.
Jujuaningsih, Rizal.K., Triyanto.Y., Lestari.W., Dahrul.A.H., 2021. Penggunaan Pestisida Nabati Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.) pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna Sinensis L.) untuk Mengurangi Dampak Pencemaran Lingkungan di Desa Gunung Selamat, Kec. Bilah Hulu, Kab. Labuhanbatu. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 4 (3): 1-4
Lestari, N, A. 2019. Kajian Potensi Berbagai Tanaman Liar Menjadi Pestisida Nabati. Jurnal Agriovet, 1(2): 260-273.
Mohammad, E. 2016. Pengaruh Variasi Waktu Kontak Tanaman Bayam Duri terhadap Adsorpsi Logam Berat Kadmium (Cd). Jurnal Entropi, 10(1):563-564.
Mufaridha, L. (2022). Pengaruh Ekstrak Bayam Duri (Amaranthus Spinosus L.) Sebagai Insektisida Nabati Terhadap Mortalitas Ulat Grayak (Spodoptera Litura F.) Pada Bunga Kol (Brassica oleracea Var. botrytis L.) Sebagai Sumber Belajar Biologi (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Malang).
Nurrahman, M. (2018). Eksplorasi Jamur Tanah pada Lahan Tanaman Wortel dan Ketahanannya Terhadap Fungisida Berbahan Aktif Propineb (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).
Singkoh, M., & Katili, D. Y. 2019. Bahaya pestisida sintetik (sosialisasi dan pelatihan bagi wanita kaum ibu desa Koka Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa). JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia, 1(1), 5-12.
Tando, E. 2018. Review: Potensi Senyawa Metabolit Sekunder dalam Sirsak (Annona murricata) dan Srikaya (Annona squamosa) sebagai Pestisida Nabati untuk Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman. Jurnal Biotropika, 6(1): 21-27.
Tuhuteru, S., Mahanani, A. U., & Rumbiak, R. E. 2019. Pembuatan Pestisida Nabati Untuk Mengendalikan Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Sayuran Di Distrik Siepkosi Kabupaten Jayawijaya. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 25(3), 135-143.
Wulandari, E., Liza, A. K., & Ridwan, M. 2019. Pestisida Nabati Pembasmi Hama Ramah Lingkungan Untuk Petani Tebuwung. Jurnal Abdikarya: Jurnal Karya Pengabdian Dosen dan Mahasiswa, 3(4).
Wulandari, E., Liza, A. K., & Ridwan, M. 2019. Pestisida Nabati Pembasmi Hama Ramah Lingkungan Untuk Petani Tebuwung. Jurnal Abdikarya: Jurnal Karya Pengabdian Dosen dan Mahasiswa, 3(4).